Rabu, 14 Agustus 2019

Bacaan Liturgi

Hari Biasa, Pekan Biasa XIX
PW S. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir

Bacaan Injil
Mat 18:15-20

Jika saudaramu yang berbuat dosa mendengarkan teguranmu,
engkau telah mendapatnya kembali.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius:

Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,
“Apabila saudaramu berbuat dosa,
tegurlah dia di bawah empat mata.
Jika ia mendengarkan nasihatmu
engkau telah mendapatnya kembali.
Jika ia tidak mendengarkan dikau,
bawalah seorang atau dua orang lain,
supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi,
perkara itu tidak disangsikan.
Jika ia tidak mau mendengarkan mereka,
sampaikanlah soalnya kepada jemaat.
Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat,
pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah
atau seorang pemungut cukai.

Aku berkata kepadamu:
Sungguh, apa yang kalian ikat di dunia ini akan terikat di surga,
dan apa yang kalian lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.

Dan lagi Aku berkata kepadamu,
Jika dua orang di antaramu di dunia ini sepakat meminta apa pun,
permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga.
Sebab di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku,
Aku hadir di tengah-tengah mereka.”

Demikianlah Injil Tuhan.

SIRAMAN ROHANI Rabu, 14 Agustus 2019 RP Fredy Jehadin, SVD

Tema: Berkorban Dan Mati Demi Kasih Akan Sesama! Matius 18: 15 – 20

Sauadara-saudari…. Hari ini kita merayakan Pesta St. Maximillianus Maria Kolbe. Dia seorang Pastor Fransiskan asal Polandia. Ia dikenal sangat saleh. Ia mendirikan Militia Maria Immaculata di Roma. Ia menyebarkan berbagai tulisan tentang Bunda Maria dalam buletin. Pada tahun 1939 terjadi Gestapo Jerman yang sangat keji dan kejam masuk ke dalam wilayah Polandia. Diktator Jerman mematahkan semangat orang Polandia lewat menahan, memenjarahkan dan membunuh para pemimpin, baik pemimpin politik, maupun pemimpin keagamaan dan para ahli. Lebih-lebih jajaran pers Polandia harus dihancurkan. Maximillianus Kolbe dikenal sebagai penulis dan editor majalah. Ia ditangkap dan diasingkan ke dalam kamp konsentrasi di Amstitz. Ia pernah dilepaskan, tetapi ditangkap kembali dan dipindahkan ke kamp konsentrasi di Auscwitz. Di penjara ini ia diam-diam menjalankan tugasnya sebagai imam bagi para tahanan. Pada suatu hari, seorang Sersan bernama Gajownicxek dijatuhi hukuman mati. Karena takut, ia berteriak-teriak menyebut anak-anak dan istrinya. Mendengar teriakan Sersan itu, Maximillianus Kolbe maju dengan tegap untuk meminta menggantikan Sersan malang itu. Katanya: “Daripada sersan yang beranak-istri ini mati, lebih baik saya yang mati. Karena toh saya tidak beranak-istri.” Pastor Maximilianus memberi dirinya untuk mati demi keselamatan sang Sersan. Satu pengorbanan yang sangat luar biasa demi keselamatan sesama.

Saudara-saudari… Sikap hidup Santo Maximilianus Kolbe menunjukkan sikap keberimanannya. Imannya akan Yesus telah meneguhkan dan menghantar orang lain untuk tetap setia beriman akan Kristus. Iman itu menyata dalam peneguhan, kepedulian penuh kasih, dan pengorbanan diri. Sebuah sikap yang telah diajarkan dan ditunjukkan oleh Yesus Kristus kepada setiap orang beriman. Iman bukanlah sekedar kata-kata. Iman mesti bertumbuh dan menyata dalam sikap maupun tindakan yang menyelamatkan.

Pertanyaan untuk kita: Siapkah kita mengikuti teladan yang sudah ditunjukkan oleh Imam saleh, Maximillianus Kolbe? Beranikah kita mati demi kasih akan sesama?

Bersama St. Maximilianus dan Bunda Maria kita berdoa: Tuhan berilah kami semangat kasih dan rela berkorban bagi sesama. Kuatkanlah kami untuk menabur cinta-Mu di tengah keragaman dan persoalan kehidupan kami. Dalam nama Kristus, kami berdoa. Amen!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.